TUGAS ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI

1. Apa Itu Induktansi Bersama dan Induktansi Diri?

A. Induktansi Bersama

Induktansi bersama memerlukan kehadiran dua solenoid atau lebih. induktansi bersama memperhitungkan efek satu solenoid terhadap solenoid lainnya. misalkan kita memiliki dua solenoid yang didekatkan. solenoid pertama dialiri arus i yang berubah terhadap waktu akibatnya medan magnet yang dihasilkan solenoid tersebuit berubah-ubah. sebagian medan magnet ini masuk kedalam rongga solenoid kedua sehingga menghasilkan fluks pada solenoid kedua. karena medan magnet berubah-ubah maka fluks magnetik pada solenoid kedua juga berubah-ubah. akibatnya pada solenoid kedua muncul GGL induksi. untuk menghitung besarnya induktansi bersama digunakan persamaan sebagai berikut :

M12=M21=M

 


perubahan arus pada satu solenoid akan mengakibatkan munculnya ggl induksi pada solenoid alin yang berada didekatnya.

B. Induksi Diri Pada Selenoida Dan Toroida

Solenoida merupakan kumparan kawat yang terlilit pada suatu pembentuk silinder. Pada kumparan ini panjang pembentuk melebihi garis tengahnya. Bila arus dilewatkan melalui kumparan, suatu medan magnetik akan dihasilkan di dalam kumparan sejajar dengan sumbu. Sementara itu, toroida adalah solenoida yang dilengkungkan sehingga sumbunya menjadi berbentuk lingkaran. Sebuah kumparan yang memiliki induktansi diri L yang signifikan disebut induktor. Induktansi diri L sebuah solenoida dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan dibawah. Medan magnet di dalam solenoida adalah :

B = μ  . n . I

dengan n = \frac{N}{l} sehingga diperoleh

\varepsilon =-N\left ( \frac{\Delta \Phi _B}{\Delta t} \right )=-L\left ( \frac{\Delta I}{\Delta t} \right )

L=-N\left ( \frac{\Delta \Phi _{B}}{\Delta I} \right )

karena B Φ = B.A = \frac{\mu _0.N.A.\Delta I}{l}

Perubahan I akan menimbulkan perubahan fluks sebesar \Delta \Phi _{B}=\frac{\mu _0.N.A.\Delta I}{l}

Sehingga L=N\frac{\Delta \Phi _B}{\Delta I}

L=\frac{\mu _{0}.N^{2}.A}{l}

dengan:

L = induktansi diri solenoida atau toroida ( H)
μ0 = permeabilitas udara (4 π × 10-7 Wb/Am)
N = jumlah lilitan
l = panjang solenoida atau toroida (m)
A = luas penampang (m2)

2. Apa Itu Rangkaian Penala/Tunner?

FUNGSI TUNER, JENIS-JENIS TUNER, FUNGSI KAKI-KAKI TUNER DAN KERUSAKAN PADA TUNER

Di atas adalah diagram blok tuner 1 band dan tidak jauh berbeda untuk band yang lain. Sinyal RF diterima oleh antena kemudian ditala/dipilih oleh rangkaian tala pada penguat RF pertama kemudian dimasukan ke rangkaian mixer, mixer ini berfungsi untuk mencampur frekuensi yang telah terpilih dan dikuatkan oleh penguat RF pertama dengan frekuensi lokal yang tertala juga. Dari proses mixing tersebut, dihasilkan beberapa frekuensi baru yang salah satunya dikuatkan dan difilter untuk menghasilkan frekuensi IF. Karena frekuensi IF yang dihasilkan harus dipertahankan pada frekuensi tertentu, maka semua rangkaian tala harus dalam posisi yang selaras, artinya, jika rangkaian tala/pemilih digeser naik 1MHz, osilator juga digeser naik 1MHz juga, keduanya secara bersamaan.
Rangkaian tala umumnya terdiri dari induktor dan kapasitor yang tersusun secara paralel (membentuk band pass filter atau perangkap gelombang). Pada umumnya, rangkaian tala pada osilator lokal juga mempunyai bentuk yang sama pula. Sedangkan metode-metode penggeseran/pemilihan frekuensi dengan menggeser nilai capasitor dalam rangkaian resonansinya, dapat menggunakan varco atau menggunakan dioda varaktor. Dioda varaktor ini bekerja mirip dengan kapasitor trimmer, tetapi dengan kontrol tegangan. Semakin tinggi tegangan yang masuk, semakin rendah nilai kapasitansi varactor, semakin rendah nilai kapasitor, semakin tinggi frekuensi yang tertala atau yang dihasilkan oleh osilator lokal.

3. Jelaskan Macam Macam Trafo Frekuensi Rendah, Menengah dan Tinggi !

A. Trafo Frekuensi Rendah

Trafo frekuensi rendah bekerja pada frekuensi audio (20Hz-20KHz) atau frekuensi diatasnya yang masih termasuk frekuensi rendah. Ciri khas trafo yang bekerja pada frekuensi rendah umumnya menggunakan inti besi yang lunak, khususnya pada range frekuensi audio. Contoh trafo frekuensi rendah yaitu Trafo Adaptor dan Trafo Output/Input.

B. Trafo Frekuensi Menengah

Trafo frekuensi menengah  disebut dengan Trafo IF (Intermediate Frequncy), dan sesuai namanya trafo ini hanya bekerja pada frekuensi menengah. Umumnya trafo jenis ini digunakan untuk radio sebagai penerima frekuensi AM/FM. Di dalam trafo ini sudah terdapat lilitan baik primer maupun sekunder yang dirangkai dan di-paralel dengan kapasitor khusus guna keperluan frekuensi menengah untuk menciptakan rangkaian resonansi L-C.

Frekuensi pada trafo ini sudah ter-standarisasi frekuensi menengah yaitu 455KHz untuk keperluan Amplitudo Modulation (AM). Sedangkan untuk keprerluan Frequency Modulation(FM)  juga sudah terstandarisasi frekuensi menengah yaitu 10,7MHz.

C. Trafo Frekuensi Tinggi

Trafo frekuensi tinggi banyak digunakan untuk kebutuhan pembangkitan frekuensi (osilator), Flyback (rangkaian televisi tabung), atau lilitan resonansi. Trafo frekuensi tinggi yang digunakan untuk osilator lebih populer dengan sebutan spul osilator. Sedangkan lilitan osilator yang sering digunakan biasanya osilator Hartley dan Coolpits.

Disamping itu pada frekuensi tinggi, trafo jenis ini juga sering digunakan untuk trafo resonansi. Trafo resonansi sendiri banyak digunakan untuk penyesuaian impedansi antara pemancar dan antena. Oleh karena itu trafo resonansi juga disebut dengan spul antena.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s