RANGKUMAN TUGAS ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI (AMPLIFIER)

5.4 Amplifier Common-Emitter (CE)

Amplifier CE dengan rangkaian output dan input tertala ditunjukkan dalam. G dan C4 adalah kapasitor pemblokir dc dengan reaktans yang dapat diabaikan pada frekuensi tinggi. Resistor bias RBIAS memasok arus bias ke base, dan ini dapat juga dianggap mempunyai pengaruh yang dapat diabaikan terhadap kinerja pada frekuensi tinggi. sumber sinyalnya ditunjukkan sebagai pembangkit anis ekivalen is dan Rs. Rangkaian ekivalennya, yang menggunakan rangkaian ekivalen hybrid-lt untuk transistor

image042

image044

Dari rangkaian ekivalen  dapat dilihat bahwa resistans output transistor dan resistans beban-nya berada dalam keadaan paralel dengan rangkaian tertala outPut. Kapasitans outpttt transistor, yang ditunjukkan sebagai C”, paralel dengan kapasitans penala rangkaian C2 dan akan merupakan bagian dari rangkaian resonan.

5.6 Amplifier Common-base

Efek kapasitor umpan balik ccU dapat dinul-kan sama sekali dengan menghubungkan transistor dalam konfigurasi comidon-base, rangkaian ekivalen sinyal kecil G. Dengan ragam pengoperasian ini, ccU tampak paralel dengan kapasitans output Cc dan karena itu tidak menyumbang kepada kapasitans input. Input resistans-nya aJgm di mana oco = ßJ(ß0 + l)

Oleh karena itu maka resistans input untuk rangkaian CB jauh lebih kecil daripada yang untuk rangkaian CE yang diberikan oleh ßJgm. Kapasitans input-nya adalah Ceb/ = Cue. Resistans output untuk rangkaian CE timbul di antara kollektor dan emitter. Ini lebih tinggi daripada resistans output CE dan dapat ditunjukkan diberikan oleh rcCB ßorcCE. Karena nilainya yang sangat tinggi, resistans output dapat diabaikan bagi kebanyakan maksud praktis. Rangkaian ekivalen yang disederhanakan

image016

image018.jpg

Akan terlihat bahwa pada resonansi tidak ada penggeseran fase dengan amplifier CB, yang kontras dengan amplifier CE yang menggeser fase 1800. Besarnya gain itu adalah kurang lebih sama bagi kedua konfigurasi.

Sebagaimana yang ditunjukkan dalam bagian berikut, penguatan daya tahap CB yang tersedia lebih rendah dari yang untuk tahap CE, yang membatasi kegunaannya sebagai amplifier ujung depan.

5.7 Penguatan daya yang tersedia

Dalam bagian 4.15 ditunjukkan bahwa penguatan daya tinggi tersedia diperlukan untuk mempertahankan faktor noise rendah dengan amplifier cascade (formula Friis). Perkiraan mengenai penguatan daya amplifier CB dan CE tersedia itu dapat dibuat sbb.

image043.jpg

5.8 Amplifier Cascade

Amplifier Common. emitter dan common-base dapat dikombinasikan untuk membentuk sebuah unit amplifier yang mempunyai penguatan daya tinggi dan stabil. Unit kombinasi ini dikenal sebagai amplifier cascode (kata ini merupakan pusaka dari teknologi tabung vakum, di mana rangkaian aslinya menggunakan tahap cascade common-cathode dan common-grid).

Sebuah amplifier cascode dasar ditunjukkan dalam Gb. 5.8.1 di mana komponen bias-nya dibuang untuk penyederhanaan. Kedua transistor itu membawa amstoTéktor yang sama dan karena itu akan mempunyai transkonduktans yang sama pula. Beban éfektif- yang tampak pada tahap CE adalah resistans input tahap CB, yaitu ao/gm. Maka, penguatan tegangan tahap CE adalah gmuJgm = ao, atau hanya sedikit kurang dari unity. Ini berarti umpan balik itu tidak akan cukup untuk menimbulkan osilasi. Penguatan tegangan tahap CB adalah gmZL, dan karenanya penguatan keseluruhan tegangan-nya adalah OtogmZL = gmZL. Tahap CB stabil sesuai dengan pembawaannya, sebagaimana yang didiskusikan terdahulu, jadi keseluruhan amplifier itu stabil.

Input resistans tahap CB adalah rbe. Maka secara keseluruhan amplifier cascode itu memiliki ziri„ciri kinerja yang serupa dengan yang dimiliki oleh amplifier CE tetapi dengan kestabilan (dan perhatikan, tidak ada perubahan fase 1800), dan karena itu penguatan tegangan tersedia tinggi.

5.9 Rangkaian Ekivalen Hybrida-lt untuk FET

Dalam banyak hal  Field Effect Transistor (FET) lebih sederhana dari bipolar junction transistor (BJT) karena sangat tinggi-nya impedans input yang diberikan oleh gerbang kontrol. Rangkaian 3kivalen hybrid-Tt diperlihatkan dalam Gb. 5.9.1. Di sini, eksternal terminal diberi label G untuk gate (gerbang), S untuk source (sumber), dan D untuk drain (pembuangan). Analisis rangkaian yang nemanfaatkan FET berlangsung dengan cara yang menyerupai cara BJT yang menggunakan rangcaian ekivalen hybrid-fl.

image059.jpg

5.10 Rangkaian pencampur (Mixer)

Mixer digunakan untuk mengubah sinyal dari satu frekuensi ke frekuensi lain. Ada sejumlah alasan mengapa pengubahan frekuensi itu diperlukan, dan kenyataannya sejumlah proses mixing dipergunakan dalam penerapan khusus, yang tampil dengan nama berbeda. Modulasi, demodulasi, dan multiplikasi frekuensi merupakan beberapa contoh ini, yang akan diliput dalam bab kemudian. Istilah mixer pada umumnya dicadangkan untuk rangkaian yang mengubah sinyal frekuensi radio ke suatu nilai madya (yang dikenal sebagai intermediate frequency atau IF) dan yang memerlukan masukan dari sebuah asilator lokal (LO = local oscillator) untuk melakukannya.Ciri umum rangkaian ini diliput dalam bagian ini.

Beberapa tipe mixer (terutama yang digunakan untuk microwave) tersedia dalam bentuk unit paket, dengan masukan ports yang berlabel RF dan LO dan output port berlabel IF. Dalam aplikasi penerima tertentu rangkaian osilatornya merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian mixer, dan hanya masukan RF dan output IF sajalah yang siap untuk dapat dikenali. Semua rangkaian mixer memanfaatkan kenyataan bahwa apabila dua sinyal sinusoidal dikalikan bersama, hasilnya terdiri atas komponen frekuensi yang dijumlahkan dan yang dikurangkan atau selisihnya.

6.2 LINEAR AMPLIFIER, KELAS C AMPLIFIER, DAN FREKUENSI MULTIPLE

Ada dua tipe dasar power amplifier digunakan dalam pemancar: linear dan kelas amplifier C. Linear memberikan sinyal output yang identik, replika diperbesar dari input. output mereka berbanding lurus dengan masukan mereka; therefori, mereka setia mereproduksi input tetapi pada tingkat daya yang lebih tinggi. Semua audio amplifier adalah linear. amplifier RF linear harus tused untuk meningkatkan tingkat daya sinyal varyingamplitude RF seperti tingkat rendah AM atau sinyal SSB. Sinyal Frequencpmodulated tidak bervariasi dalam amplitudo dan, karena itu, dapat diperkuat dengan lebih efisien, nonlinear kelas C amplifier.

Linear amplifier beroperasi kelas A, AB, atau B. Kelas penguat menunjukkan bagaimana hal itu akan menjadi bias. Sebuah kelas A penguat bias sehingga melakukan terus menerus. bias diatur sehingga input bervariasi kolektor (atau drain) saat ini lebih dari satu daerah linier karakteristik transistor. Dengan cara ini, outputnya adalah reproduksi Iinear diperkuat input. Biasanya kita mengatakan bahwa kelas A amplifier melakukan untuk 360″ dari input gelombang sinus.

KELAS A amplifier adalah linear tetapi tidak sangat efisien. Untuk itu, mereka membuat power amplifier rendah. Akibatnya, mereka digunakan umumnya sebagai penguat tegangan sinyal kecil atau untuk amplifier daya rendah. Amplifier penyangga dijelaskan sebelumnya beroperasi kelas A.

Kelas B dan kelas C amplifier lebih efisien karena arus mengalir hanya sebagian dari sinyal input. Mereka membuat power amplifier yang baik, kelas C menjadi yang paling efisien. Karena kedua kelas B dan kelas C amplifier mendistorsi sinyal input, teknik-teknik khusus yang digunakan untuk menghilangkan atau mengkompensasi distorsi. Sebagai contoh, amplifier kelas B dioperasikan dalam konfigurasi push-pull, sedangkan kelas C amplifier menggunakan beban LC resonan untuk menghilangkan distorsi.

image037.jpg

image068.jpg

image070.gif

Metode pembiasan lain pada amplifier kelas C dapat kita lihat pada gambar. Dapat kita lihat pada gambar  disebut sebagai metode self-bias. Ketika tegangan mengalir pada transistor,tegangan ini dikembangkan oleh R1. Kapasitor C1 diisi dan memegang tegangan konstan. Hal ini akan dapat membuat emitter lebih positif dibandingan base.

image079.jpg

6.3 IMPEDANCE MATCHING NETWORKS

Salah satu bagian yang paling penting dari transmitter setiap adalah pencocokan jaringan yang menghubungkan satu tahap ke tahap lainnya. Dalam pemancar iypical, osilator menghasilkan sinyal pembawa dasar yang kemudian diperkuat biasanya dengan beberapa tahapan sebelum mencapai antena. Karena idenya adalah untuk meningkatkan kekuatan sinyal, sirkuit kopling interstage harus mengizinkan transfer yang efisien kekuasaan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Akhirnya, beberapa cara harus disediakan untuk cgnnect tahap penguat akhir untuk antena, lagi untuk tujuan oftransferring jumlah maksimum yang mungkin besar.

7.4 SIRKUIT PENERIMA TYPICAL

Bagian paling penting dari penerima komunikasi adalah ujung depan. Ujung depan biasanya terdiri dari amplilier RF, mixer, dan sirkuit disetel terkait. Ini adalah bagian dari penerima yang memproses sinyal input sangat lemah. Sangat penting bahwa komponen suara rendah digunakan untuk memastikan s cukup tinggi / N ratio’ Selanjutnya, selektivitas harus sedemikian rupa sehingga secara efektif menghilangkan gambar.

Penerima digunakan pada frekuensi di atas sekitar 100 MHz, bagaimanapun, melakukan biasanya menggunakan amplifier RF. Dan amplifier RF ditemukan di beberapa sistem komunikasi frekuensi rendah juga. Tujuan utama dari amplifler ini adalah untuk meningkatkan amplitudo sinyal lemah sebelum pencampuran. RF amplifier juga menyediakan beberapa selektivitas untuk penolakan gambar.

7.11.jpg

Salah satu yang paling umum IF nilai-nilai adalah 455 kHz. Itu cukup rendah untuk memberikan selektivitas yang baik dan untuk membuat keuntungan yang tinggi dengan ketidakstabilan minimum. Dengan frekuensi masukan sampai sekitar 10 MHz, penolakan gambar yang memuaskan. Tapi di luar frekuensi itu, input disetel sirkuit tidak memberikan selektivitas yang cukup untuk mengurangi gambar ke tingkat yang dapat diterima. Ketika beroperasi di atas sekitar 10 MHz, lebih tinggi frekuensi IF yang dipilih. Sebuah nilai dalam kisaran 1500-20 kHz adalah forfrequencies memuaskan sampai sekitar 50 MHz.

7.13.jpg

Selektivitas dalam penguat IF disediakan oleh sirkuit disetel. Sebagaimana ditunjukkan sebelumnya, Cascading disetel sirkuit menyebabkan bandwidth sirkuit keseluruhan akan jauh menyempit. sirkuit disetel tinggi digunakan, tetapi dengan beberapa sirkuit tuned, bandrvidth ini bahkan narower.

SELF TEST HALAMAN 107-108

12. Linear power amplifiers are used to raise the power level of  Low Level AM and SSB Signals.
13. A Mosfet power amplifier is used to increase the power level of an FM signal.
14. Linear power amplifier operate class A,B, and AB
15. A class A transistor power amplifier has an efficiency of 50 percent. The output power is 27W. The power dissipated in the transistor is 13.5 W
16. Class A amplifier conduct for 360 degrees of a sine wave input.
17. True or false. With no input, a class B amplifier does not conduct. FALSE
18. Class B RF power amplifiers normally used a(n) Broadband configuration.
19. A class C amplifier conducts for approximatly 90 degrees to 150 degrees of the input signal.
20. In a class C amplifier, collector current flows in the form of positive pulses.
21. In a class C amplifier, a complete sinusoidal output signal is produced by a(n) Timed Circuit.
22. The efficiency of a class C amplifier is in the range of 60 to 85 percent.
23. The tuned circuit in the collector of a class C amplifier acts as a filter to eliminate Induced Voltage.
24. A class C amplifier whose output tuned circuit resonates at some integer multiple of the input frequency is called a(n) Flywheel effect.
25. Frequency multipliers with factors of 2, 3, 4, and 5 are cascaded. The input is 1.5MHz. The output is 120 MHz.
26. A class C amplifier has DC supply voltage of 28 V and an average collector current of 1.8A. The power input is 50.4 W

SELF TEST HALAMAN 150-151

53. RF amplifier provide initial RF Amplifier  and Mixer in a receiver but also add Related Tune Circuits.
54. A low-noise transistor preferred at microwave frequencies is the FET made of Metal Semiconductor.
55. Most of the gain and selectivity in a superhet is obtained in the IF amplifier.
56. The selectivity in an IF amplifier is usually produced by using Ferrite-core transformers between stages.
57. The bandwidth of a double-tuned transformer depends upon the degree of coupling between primary and secondary windings.
58. In a double-tuned circuit, minimum bandwidth is obtained with under coupling, maximum bandwidth with critical coupling and peak output with over or optimum coupling.
59. An IF amplifier that clips the positive and negative peaks of a signal is called a(n) limiter.
60. Clipping occurs in an amplifier because the transistor is driven by a high-level signal into Single transistor stage.
61. The gain of a bipolar class A amplifier can be varied by changing the positive peaks and negative peaks.
62. The overall RF-IF gain of a receiver is approximately 89 dB.
63. Using the amplitude of the incoming signal to control the gain of the receiver is known as AGC Voltage gen.
64. AGC circuits vary the gain of the IF amplifier.
65. The DC AGC Voltage is derived from a(n) AGC circuit connected to the demodulator or IF output.
66. Reverse AGC is where a signal amplitude increase causes a(n) AGC Voltage in the IF amplifier collector current.
67. Forward AGC uses a signal amplitude increase to positive voltage the collector current,which decreases the IF amplifier gain.
68. The AGC of a differential amplifier is produced by controlling the current produced by the Constant Current Source transistor.
69. In dual-gate MOSFET IF amplifier, the dc AGC Voltage is applied to the R1 to gate 2.
70. Another name for AGC in an AM receiver is Dual Gate MOSFET.
71. In an AM receiver, the AGC voltage is derived from the IF Signal.
72. Large input signals cause the gain of a receiver to be reduced by the AGC.
73. An AFC circuit corrects for frequency drift in the feedback control circuit.
74. The AFC DC control voltage is derived from the output of the demodulator circuit in a receiver.
75. A(n) Demodulator is used in an AFC circuit to vary the LO frequency.
76. A circuit that blocks the audio until a signal is received is called a(n) squelch circuit.
77. Two types of signals used to operate the squelch circuit are audiotone and audiosignal.
78. In a CTCS system, a low-frequency frequency tone is used to trigger the squelch circuit.
79. A BFO is required to receive CWCode and SSB Signals.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s